Rencana Bunuh Diri

Malam semakin asyik memainkan kegelapan, aku masih berpikir bagaimana cara mengakhiri hidup. Rencana untuk bunuh diri sudah lama berada dibenakku. Ada beberapa rencana yang telah kususun rapih akan tetapi aku masih mempertimbangkan untung ruginya, kedengarannya seperti pedagang untuk bunuh diri saja harus berhitung. Tetapi memang tujuanku adalah mengakhiri hidup dengan cara yang paling nyaman, tenang dan tentu sukses. Dari pada mati perlahan-lahan digerogoti TBC, tuberculosis akut yang menyerang paru-paruku.

Aku pernah dengar dari seorang tetangga di sebelah pondokanku, bahwa menurut buku yang pernah ia baca, mati itu seperti orang tidur. Tidur adalah sebuah kematian kecil untuk manusia. Tentu tidur aku pernah merasakan, setiap hari, setiap malam bahkan setiap ada kesempatan aku lebih memilih tidur ketimbang melakukan aktifitas yang lain, selain memulung barang bekas pekerjaanku sekarang.

Setelah mendengar teori kematian kecil dari tetanggaku yang mahasiswa miskin itu, aku semakin yakin untuk menyusun rencana bunuh diri. Pada suatu kesempatan aku membahasnya dengan seorang teman sambil jongkok di sebuah kedai kopi dekat TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah Bantar Gebang. Temanku, Asnawi seorang pendengar yang baik.

“As, menurutmu kalau aku mati gimana?” tanyaku.

“Mati? Urusan mati sudah ada yang ngatur Dang! Lagian mana kamu tahu kamu bakalan mati kapan,” tandasnya memandangku heran. Perkataan Asnawi terasa sangat klise.

“Nah itu dia As, aku akan merancang kematianku dengan bunuh diri!” kataku serius, sambil menyeruput kopi pahit murahan sampai habis.

“Gila kamu Dang! Kamu mau bunuh diri?” terbelalak mata Asnawi. Buru-buru dia menyeruput kopinya sampai habis juga. Biasanya orang akan memuncratkan kopi yang diminumnya saat mendengar sesuatu yang mengejutkan, tapi Asnawi malah menandaskan kopinya.

“Ya, begitulah,” jawabku enteng. “Tapi As, aku ingin bunuh diri dengan tenang, nyaman dan tentu harus sukses!” lanjutku sambil meluruskan kakiku rebahan.

“Kamu gila Dang, kenapa kamu mau bunuh diri?” rupanya Asnawi masih penasaran, sepertinya dia lebih tertarik dengan kenapa aku harus mengakhiri hidup ketimbang membicarakan kehidupan setelah mati.

Aku menghentikan percakapan ini. Asnawi tidak menawarkan solusi. Mungkin untuk urusan kematian, harus aku rancang sendiri.

Sebenarnya ada beberapa rencana yang telah kupikirkan dan sedang aku pertimbangkan untung ruginya.

Pertama, bunuh diri dengan tali. Aku hanya perlu membeli atau mencari seutas tali di tempat sampah, tali itu harus kokoh dan tidak gampang putus. Kemudian tali itu aku ikatkan di atas kusen pintu atau sebatang pohon, lalu aku belitkan leherku ke simpul tali yang berbentuk lingkaran, naik kesebuah kursi yang telah kusiapkan lalu kutendang kursi itu kuat-kuat dengan kaki, dan simpul tali akan membelit leherku saat tubuhku jatuh. Tapi membayangkan tali membelit leherku tercekik aku jauh-jauh membuang rencana itu. Terlalu menyakitkan!

Kedua, bunuh diri dengan meminum racun serangga. Aku tahu sebuah merek racun serangga cair yang sering dipakai untuk membasmi nyamuk, kecoa dan serangga lainnya. Tapi terus terang banyak uang yang aku keluarkan untuk membeli racun serangga itu, terlalu merepotkan. Selain itu apakah komposisi racunnya masih sepaten beberapa tahun yang lalu, yang banyak mengantar sukses orang bunuh diri. Pilihan ini terlalu mahal!

Ketiga, bunuh diri dengan cara ekonomis. Melindaskan diri di atas bantalan rel kereta api dengan sebuah kereta api yang sedang melaju kencang. Aku cukup menunggu sebuah kereta api yang sedang berjalan kencang, kemudian kereta itu menabrak tubuhku. Pasti akan sukses, tapi membayangkan tubuh hancur seperti tetelan daging segar di pasar dan orang-orang akan sangat jijik memungutnya satu per satu, pilihan seperti itu sangat menjijikan!

Lalu, rencana lain melompat dari gedung bertingkat. Aku hanya perlu mencari gedung bertingkat yang paling tinggi, kemudian aku meluncurkan tubuhku ke bawah, menghujam tanah atau aspal keras dan mati. Sukses! Tapi, selama tubuhku jatuh melayang, pasti ada sesuatu yang aku rasakan dan pikirkan. Pilihan ini membuatku ngeri membayangkannya!
Lagi pula, aku harus berdandan rapih untuk naik ke atas gedung bertingkat, mana boleh seorang pemulung masuk ke sebuah gedung bertingkat. Sangat tidak ekonomis.

Mungkin karena terlalu keras memikirkan berbagai rencana bunuh diri akhirnya aku tertidur. Tidurku sangat dalam.

Teringat perkataan mahasiswa psikologi miskin tetanggaku. Ada 5 fase tidur, yaitu fase pertama masa transisi antara kondisi sadar dan kondisi tidur. Fase kedua, seseorang telah masuk ke kondisi tidur yang sebenarnya, fase tidur panjang katanya. Fase ketiga, kondisi tidur akan semakin dalam gelombang otak akan lebih lambat. Fase keempat, yaitu tidur sangat dalam dan fase terakhir dimana terjadi gerakan bola mata yang cepat, berlangsung hanya beberapa detik dan itulah kejadian mimpi dalam tidur. Aku bermimpi dalam tidurku.

Tempat mimpinya berpindah-pindah, rasanya sangat lama aku berada di suatu tempat dengan pemandangan persawahan hijau berundak dan bertemu beberapa orang yang aku tidak kenal. Selanjutnya aku sudah berada di suatu tempat lain tanpa orang-orang dengan ruang kosong yang begitu besar. Kemudian dengan cepat bertemu orang yang sudah lama mati. Teman masa kecilku, namanya Imron.

***

Terakhir melihat Imron saat berusia 13 tahun. Dia masih seperti Imron yang kukenal dulu, ketika bertemu denganku dia tersenyum, mengangguk dan melambaikan tangan mengajakku mendekat.

“Imron?” kataku gagap.

“Ya, ini aku Dang!” tangannya dijulurkan untuk bersalaman denganku.

“Wah, aku lagi mimpi,” kataku kepadanya.

“Betul Dang kamu sedang bermimpi,” tiba-tiba suara Imron yang berusia 13 tahun itu menggelegar, suaranya nyaring dan berat, menggaung.

“Kenapa kamu mendatangiku?” aku bertanya sambil menutup kupingku, agar gelegar suara yang menimbulkan desing di telingku hilang.

“Kamu yang mendatangiku Dang!” Imron kini berbicara lirih.

“Aku…??? Kenapa aku yang mendatangi kamu?” aku semakin heran, kenapa dia bilang aku mendatangi dia, padahal dalam mimpi tidak ada rencana untuk bertemu dengan siapa-siapa. Ini kebetulan.

“Bukan kebetulan Dang!” Imron sepertinya tahu isi pikiranku. “Kamu mencariku, aku tahu dengan rencana kamu untuk mati. Sebenarnya kalau kamu betah untuk berlama-lama di alam mimpimu, kamu tidak akan kembali ke jasadmu yang sedang tidur di pondok reyot pemulung itu!” kembali suara Imron menggelegar.

“Imron, sejujurnya aku ingin berada terus di sini! Bagaimana caranya?” tanyaku memohon.

“Kamu harus mati dulu, tetapi kamu takut dengan segala rencana kematianmu. Artinya kamu takut mati! Dan kamu tidak akan pernah ada di sini!” Imron masih berbicara dengan bergelegar.

Tiba-tiba Imron hilang, sosoknya tidak ada lagi di depanku. Aku termangu. Kemana Imron batinku masih banyak pertanyaan untuk dia sehubungan rencana bunuh diriku.
Kemudian seperti kata tetanggaku yang mahasiswa miskin itu, aku kembali masuk ke fase tidur keempat, ketiga, kedua, lalu masuk ke fase tidur pertama. Aku terbangun.

***

Hari belum benar-benar pagi. Matahari belum menerangi sebagian besar tanah pekarangan pondokanku. Aku masih berbaring, mengingat-ingat kembali pertemuanku dengan Imron dalam mimpi semalam. Untuk lebih lama di sini, kamu harus mati! Itu bagian percakapan yang sangat aku ingat dari Imron.

Ya, tetapi aku sangat takut dengan rencana bunuh diriku. Untuk mati aku takut, tetapi untuk mencapai kematian, aku harus bunuh diri. Semua berputar-putar di kepalaku.

Malas sekali hari ini, selesai mandi di kamar mandi umum dekat kali Ciliwung aku bergegas menelusuri jalanan, mengambil sampah-sampah yang berguna untuk di jual botol plastik minuman dalam kemasan, kardus-kardus, koran bekas atau kalau lagi beruntung aku bisa menemukan peralatan elektronik yang dibuang pemiliknya karena ada komponennya yang rusak. Semua sampah itu akan kujual ke Pak Rohim, seorang penadah barang-barang bekas. Pak Rohim sangat baik, dia selalu memberikan timbangan lebih untukku sehingga aku bisa mendapat uang lebih seribu duaribu perak darinya.

Siang ini aku menemui Asnawi di TPA Bantar Gebang sekalian mencari barang bekas yang lebih berkelas dan mahal. Asnawi lebih suka mangkal di TPA dari pada harus bersusah payah menelusuri jalanan untuk mendapatkan barang bekas. Aku akan kembali mengajak dia berdiskusi tentang rencana bunuh diriku dan menceritakan padanya pertemuanku dengan Imron di mimpi tadi malam.

Tidak susah mencari Asnawi, dia sedang berteduh di kedai kopi TPA dengan beberapa pemulung lainnya. Siang ini gerimis mengguyur Bantar Gebang. Aku membuang karung besar tempat barang bekas di depan Asnawi, dia sedikit terkejut.

“Dang, kok karungmu masih kosong?” tanya Asnawi melihat karungku.

“Tadi sudah kujual ke Pak Rohim. As, aku mau cerita sesuatu,” aku menyeret dia agak menjauh dari pemulung lain. Aku tidak mau percakapanku di dengar oleh mereka.

“Semalam aku bermimpi bertemu dengan orang yang sudah mati, namanya Imron, dia itu temanku sewaktu kecil dulu,” setengah berbisik aku mulai bercerita.

“Kenapa dia mati? ya, si Imron itu!” katanya tanpa mau dijeda olehku.

“Setahuku Imron sakit sebelum meninggal, badannya menguning, belum sempat dilarikan ke Rumah Sakit dia keburu mati,” kataku memberi penjelasan mengenai Imron.

“Lalu apa yang akan kamu bicarakan denganku?” Asnawi mulai tidak sabar.

“Masih rencana bunuh diriku As, aku bingung si Imron tahu aku mau bunuh diri, tetapi dia tahu juga kalau aku takut mati, padahal katanya untuk mati aku cukup berlama-lama dalam alam mimpi dan tidak kembali ke jasadku yang sedang tidur,” kataku terbatuk-batuk.

Asnawi kemudian tertawa terbahak-bahak, sampai bahunya terguncang dan air matanya keluar.

“Ya itu dia Dang, kamu itu sudah gila, kamu menyusun rencana bunuh diri, tapi dari perkataanmu sendiri kamu takut dengan rencana matimu itu,” geli sekali Asnawi, dia kembali tertawa.

“As, aku ingin mati tanpa rasa sakit, tenang dan dalam suasana yang nyaman!” hardikku agar dia berhenti tertawa.

“Terus apa rencana kamu sekarang?” tanya Asnawi menantang.

“Aku akan bunuh diri malam ini,” jawabku kalem.

Asnawi tertawa lagi dan meninggalkanku menuju kedai kopi. Aku mengikuti langkahnya dan kemudian memesan segelas kopi berikut nasi rames untuk makan siang.

Selesai makan, aku meninggalkan Asnawi yang masih berbicara dengan pemulung yang lain. Pembicaraan yang membosankan, masalah ekonomi minyak tanah langka dan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, juga masalah politik yang membuat sebagian besar pemulung menjadi seperti seorang pengamat politik yang sering tampil parlente di televisi. Mengapa masalah-masalah yang membosankan itu yang mereka bicarakan?

Gerimis masih mengguyur, bau sampah menjadi lebih menyengat. Sambil mencari barang bekas di gunungan sampah aku kembali berpikir rencana bunuh diriku. Gantung diri, terjun dari gedung tinggi, ditabrak kereta api, minum racun, memotong nadi dengan silet silih berganti muncul tenggelam dalam benakku. Tubuhku terasa penat dan capek.

Aku kemudian berbaring dekat gunungan sampah di atapi oleh sebuah kardus besar yang aku temukan. Otakku terus berputar untuk mendapatkan rencana bunuh diri dengan cara yang sangat tenang, nyaman dan sukses.

Lagi-lagi aku tertidur, dan seperti kata mahasiswa miskin tetanggaku, tidur adalah kematian kecil, aku langsung masuk ke fase tidur paling dalam dan bermimpi.

Dalam mimpi aku kembali bertemu Imron, dia mengajakku ke suatu tempat hanya dengan melambaikan tangannya, ada beberapa orang yang mengikuti Imron.
Imron tidak mengajakku berbicara, kemudian tangannya erat memegangku, seolah-olah aku tidak boleh lepas dari genggamannya. Kami berjalan melewati awan-awan putih, tebing-tebing terjal yang kelam dan melintasi samudera lautan yang sangat luas membentang hingga mencapai sebuah padang bunga yang luas penuh asap kabut.

Imron masih menggenggam tanganku, seraya ia berkata,”Jangan mati bunuh diri Dang!”

Aku merasa sangat nyaman, sangat tenang dan serasa terbang. Sepertinya aku tidak pernah terjaga dari tidurku.***

Jakarta, 19 April 2008

Sumber Referensi :
Misteri Tidur, oleh: Prof. Dr. Ahmad Syauqi Ibrahim, Penerbit Pustaka Al-Kautsar (cetakan Mei 2007)

Percakapan Dengan Bayi

Bayi yang aku ajak berbicara rupanya tidak mau tumbuh menjadi seorang dewasa. Baru kali ini dalam percakapanku dengan bayi, aku mendapatkan jawaban seperti ini. Tidak mau dewasa, dia ingin menjadi bayi terus hingga akhir hayatnya atau kalau perlu mati sekalian, tanpa harus menjadi dewasa.

Biasanya bayi yang aku ajak bercakap-cakap selalu dengan bersemangat dan sangat tidak sabar untuk cepat menjadi dewasa, setidaknya mereka sangat antusias menjadi seorang anak kecil, kemudian tumbuh remaja lalu menjadi dewasa. Seperti Fariz keponakanku.

Bayi itu bernama Andrea. Aku mengenalnya saat aku sedang jalan-jalan di sebuah mall mewah di Senayan. Kami berkenalan ketika tatapan mata kami bersirobak. Andrea saat itu sedang duduk dalam kereta dorongan bayi bersama baby sitternya. Tatapan matanya membuat aku mendekati dia, karena aku tahu itu sebuah isyarat dari bayi untuk memanggilku.

Kelebihanku bercakap-cakap dan mengerti bahasa bayi baru aku sadari suatu hari ketika seorang keponakanku tentu saja masih bayi tiba-tiba menangis. Bayi menangis membuatku bingung, panik, entah harus berbuat apa. Walaupun aku wanita, tetapi saat itu usiaku masih sangat remaja. Aku tidak pernah diajari oleh ibuku bagaimana mengganti popok bayi, atau hanya sekadar menggendong bayi untuk menenangkan. Aku dan Fariz hanya berdua, kakakku ibu Fariz sedang ke pasar. Fariz terus menangis.

Yang terdengar di kupingku kala itu hanya suara ooee..ooeee ooooeeee yang nyaring sekali. Kemudian diikuti oleh suara mmmmha…paaaa…heeheeeo oe yang keluar dari mulut mungil Fariz.

Aku kemudian menangkap irama suara Fariz menjadi rangkaian kata yang aku mengerti, betapa terkejutnya aku. Karena ternyata Fariz berkata,”Tante, ada semut yang menggigit punggungku.” Masih terkaget, aku membalikkan badan Fariz dan ternyata benar, ada seekor semut merah yang sedang menggigit punggung Fariz.

“Semutnya sudah tante pencet Fariz,” kataku sambil memencet mahluk kecil merah di depan matanya. Fariz tampak gembira. Ada perasaan lega dari mimiknya, rupanya dia sangat tersiksa dengan gigitan semut. Pantesan dia menangis.

“Gitu dong, dari tadi Fariz udah teriak-teriak nangis tante malah kayak orang bingung,” ketus Fariz sambil masih tengkurap di kasurnya.

“Mana tante tahu kamu nangis digigit semut,” balasku gemas. Aku sendiri saat itu masih tidak percaya aku bercakap-cakap dengan seorang bayi yang belum genap berusia sepuluh bulan.

Sejak saat itu, aku sangat mengerti bahasa bayi, bahkan Fariz selalu merengek minta aku yang menjaganya ketika usai aku pulang sekolah, alasannya sederhana Fariz tahu aku mengerti percakapannya. Yang mengherankan setelah Fariz bisa berbicara dan telah mengenal beberapa kosa kata sederhana saat dia berusia sekitar satu setengah tahun, dia tidak pernah ingat semasa bayi aku dan dia bisa saling mengerti percakapan dan berkomunikasi. Seolah-olah semuanya sirna dengan bertambah umurnya. Aku berkesimpulan aku mempunyai kelebihan berbicara dengan bayi bukan dengan anak kecil yang sudah mulai bisa berbicara.

***

Waktu berlalu seirama perputaran bumi. Tidak ada seorangpun yang tahu tentang kemampuanku berkomunikasi dengan bayi. Hanya aku dan bayi-bayi yang pernah aku ajak bercakap-cakap, dan mereka tidak pernah bisa membongkar rahasia ini kemudian membeberkan kepada orang lain termasuk orang tua mereka. Ya, tentu saja tidak bisa, karena pada suatu saat bayi-bayi itu sudah mulai bicara mereka akan lupa bahwa mereka pernah bercakap-cakap denganku. Aku sangat yakin. Namun kemudian sirna.

Ternyata tidak sepenuhnya keyakinan itu benar. Menginjak usiaku yang ke-40, aku bertemu dengan seorang bayi, tepatnya kini dia sudah menjadi seorang pemuda dewasa. Pertemuanku kali ini bukan di tempat keramaian atau di panti asuhan. Setelah aku bisa berkomunikasi dengan bayi, aku sering mengunjungi panti asuhan untuk sekadar bertegur sapa dengan bayi-bayi yang dibuang oleh orang tua mereka. Sangat sedih mendengar kisah mereka, mereka yang tidak punya dosa apa-apa harus menanggung penderitaan yang sungguh luar biasa.

Bahkan ada seorang bayi yang dibuang, kemudian malah ditolong oleh seekor anjing yang membawanya ke sebuah panti asuhan. Bayi itu bernama Luna, Luna tidak pernah mengerti kenapa ibunya tega membuang dia, disaat tenggorokannya sangat dahaga untuk merasakan nikmatnya air susu ibu.

“Aku kira anjing itu akan memakanku bunda, ternyata dia menyeret aku ke tempat ini,” begitu cerita Luna yang kini berbaring gembira di rumah panti asuhan sambil bermain boneka donal bebek. Luna menjadi bayi yang sangat lucu, montok dan sehat di panti itu.

“Ternyata anjing lebih berhati mulia ketimbang ibumu yang manusia itu Luna,” kataku sambil mengusap-usap punggung Luna. Bayi sangat senang apabila punggungnya diusap-usap dengan penuh kasih sayang. Atau juga kepalanya dibelai dengan penuh kelembutan.

Bayi-bayi itu kini memanggilku bunda. Padahal aku sendiri belum memiliki seorang anakpun. Aku tidak menikah sampai umurku kepala empat, hingga aku bertemu dengan bayi Andrea.

Hanya ada seseorang yang mengetahui aku bisa berbicara dan mengerti bahasa bayi. Anak itu bernama Danu. Aku mengenal Daru karena dia tetanggaku, umurnya kini hampir sama dengan umur Fariz, hanya selisih 2 bulan.

Sejak bisa berkomunikasi dengan bayi, aku jadi keranjingan mencari bayi-bayi untuk aku ajak berbicara. Orang tua mereka hanya tahunya aku seorang yang sangat suka dengan bayi, kadang-kadang ulahku membuat mereka mengerenyitkan dahi.

“Kinar, kamu tuh kalau sudah bermain dengan Fariz atau anak tetangga kayak orang gila, masak sich suaramu sampai ngikut-ngikut suara bayi segala,” begitu kakakku memberikan penilaian kepadaku. Aku hanya senyum menanggapi komentar seperti itu. Akhirnya buatku menjadi biasa menanggapai komentar seperti itu, tetapi ternyata tidak buat ibu para bayi mereka menganggap aku gila. Biar saja, mereka khan tidak tahu kemampuanku.

Kembali ke Danu. Saat Danu berusia 6 bulan aku berkenalan dengannya. Danu sangat hening, semua tingkah lakunya disampaikan dengan gerakan tangan, kaki, mimik muka, mulut atau mata. Aku bersuara, Danu tetap diam. Malah kedua tangannya bergerak-gerak. Seperti memberikan isyarat.

“Astaga!” pekikku, ternyata Danu bisu dan tuli. Kasihan sekali kamu Danu, aku hampir menangis ketika dengan tangannya yang mungil memberitahu aku, bahwa dia tidak bisa bicara dan mendengar. Tangannya berbahasa isyarat.

Saat Danu berusia 2 tahun, mereka sekeluarga pinda ke kota Bandung. Suatu hari, tiba-tiba ada seorang pemuda datang ke rumahku dan dengan gembira sekali memelukku. Aku sempat menolak pelukannya, tiba-tiba pemuda itu berhenti memelukk, tersenyum dan dengan bahasa isyarat dia memperkenalkan diri. Ya Tuhan, ternyata pemuda itu Danu.

Danu kemudian bercerita dengan menggunakan bahasa isyarat, dan bertanya kepadaku apakah aku masih berbicara dengan bayi. Aku mengangguk. Sejak itu aku tahu bahwa bayi yang bisu dan tuli dari kecil, masih akan ingat percakapanku dengan mereka semasa bayi. Bayi itu Danu. Dia datang ke rumahku, dan aku telah berusia 40 tahun.

***

“Nenek !” panggil Andrea. Lamunanku buyar. Ah, iya. Aku masih bengong di depan Andrea bayi yang tidak mau jadi dewasa, dia ingin menjadi bayi terus.

“Apa pendapat nenek?” Tanya Andrea. “Kenapa aku harus menjadi dewasa?” kejarnya.

“Nenek tidak punya jawaban,” kataku kemudian meninggalkan Andrea yang menangis meraung. Babby sitter Andrea berusaha menenangkan anak itu dengan memberikannya sebotol susu.

Andrea tetap menangis. Aku terus berjalan terbungkuk-bungkuk menyelusuri koridor mall yang mewah. Aku jadi teringat kisah Luna yang diselamatkan oleh seekor anjing. Manusia dewasa itu kejam. Itu kesimpulan Andrea di awal percakapanku dengannya tadi. Makanya Andrea tidak mau menjadi dewasa. Kurasa Itu jawaban yang diharapkan bayi Andrea. Perlukah aku menegaskan kepadanya?***

THE KITE RUNNER

Membaca novel dan menonton film The Kite Runner sama asyiknya. Mungkin karena penggarapan filmnya dilakukan oleh Hollywood, dengan setting alam Afghanistan atau juga aku membaca novelnya setelah menonton filmnya. Padahal ada pemeo yang sangat populer di Amerika, cepat baca novelnya sebelum Hollywood merusaknya.

The Kite Runner, adalah sebuah novel karya Khaled Hosseini, yang kemudian mendapat penghargaan dari UNHCR berupa Humanitarian Award 2006. Novel yang diterjemahkan ke dalam 42 bahasa dan lebih dari 2 tahun bertengger di daftar New York Times Bestseller.

The Kite runner adalah sebuah kisah penuh kekuatan tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan dan penderitaan. Khaled Hosseini dengan brilian menghadirkan sisi-sisi lain Afghanistan, negeri indah yang hingga kini masih menyimpan duka. Di tengah belantara puing di kota Kabul, akankah Amir (sang tokoh utama) menemukan kebahagiaan yang kelak menyapu kesedihannya karena telah mengkhianati Hassan, satu-satunya sahabatnya, saudaranya.

Dalam Bab Empat novel ini, ada bagian yang sangat menyentuh buatku. Yaitu dimana proses kreatif Amir menjadi seorang penulis hebat terjadi.

***
Ini cukilan ceritanya:

Suatu hari di bulan Juli 1973, aku kembali membuat gurauan kecil untuk mempermainkan Hassan. Aku sedang membaca untuknya, dan tiba-tiba aku memutuskan untuk berhenti membacakan kisah yang tertulis di buku. Aku berpura-pura tetap membaca, tetap membalik halaman buku, tapi aku tidak membaca tulisan dalam buku itu, aku mengambil alih cerita itu dan menceritakan kisah karanganku sendiri.

Hassan tentu saja tidak menyadarinya. Baginya, kata-kata yang tertulis di halaman buku hanyalah serangkaian kode acak, tidak terpecahkan, misterius. Kata-kata adalah pintu rahasia dan akulah pemegang kuncinya. Sesudahnya, aku menanyakan pendapatnya tentang cerita itu. Seketika aku ingin tergelak ketika Hassan mulai bertepuk tangan.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“ Itu adalah kisah terbaik yang pernah kau bacakan untukku selama ini,” katanya, masih bertepuk tangan.

Aku tertawa. “Benarkah?”

“Benar.”

“Ini benar-benar memukau,” aku menggumam. Aku benar-benar tak percaya. Ini… sungguh tak terduga. “Kau yakin, Hassan?”

Hassan masih bertepuk tangan. “Kisah yang hebat, Amir agha .Maukah kau membacakannya untukku lagi besok?”

“Sungguh memukau,” ulangku, napasku sedikit berat, aku merasakan bagaikan seorang yang baru menemukan harta karun terpendam di halaman rumahnya. Saat berjalan menuruni bukit, berbagai ide meledak-ledak di kepalaku seperti pesta kembang api di Chaman.
***

Itu adalah sepenggal kisah novel Khaled Hosseini, sebuah kisah inspiratif seorang anak bernama Amir, yang kemudian menjadi penulis hebat dalam cerita novel itu.

Pada Bab-bab lain, diceritakan dengan sangat luar biasa oleh Hosseini bagaimana kemudian Uni Soviet melakukan invasi ke Afghanistan, sehingga keluarga Amir haru mengungsi ke Pakista. Dan dengan apik, cerita tentang Amir menyusup ke Afghanistan pada saat negara tersebut dikuasai oleh Taliban. Seru, Dashsyat!

Bahkan The New York Times, mengatakan bahwa, “Hosseini dengan brilian menggambarkan keadaan Afghanistan prarevolusi yang hangat dan nyaman, namun telah diwarnai oleh gesekan antar-kelompok etnis…. Novel ini menyajikan detail-detail yang akan senantiasa menyentuh sanubari anda.”

***

Tentang penulis

Khaled Hosseini adalah putra pasangan seorang guru SMA dan Diplomat yang lahir di Kabul pada 1965. Ayahnya Hosseini ditugaskan ke Paris, Perancis, pada 1976. Saat mereka seharusnya kembali ke Afghanistan pada 1980, negeri itu telah berada dalam pendudukan Soviet.

Khaled Hosseini menuntut ilmu do Santa Clara University dan lulus dari San Diego School of Medicine. Sejak 1996 hingga kini, dia berpraktik sebgai dokter spesialis penyakit dalam.

The Kite Runner adalah novel Afghan pertama yang ditulis dalam bahasa Inggris dan menjadi buku terlaris sepanjang 2005.***

Sungkanisme Dalam Birokrasi Indonesia

Sebuah tulisan yang pernah dimuat di Tabloid EKSPONEN, edisi 4-10 Juni 1989 pada rubric Kerling.
SUNGKANISME DALAM BIROKRASI INDONESIA
Oleh: Bambang Cahyadi

Budaya sungkan adalah suatu keadaan dimana seseorang merasa enggan atau segan untuk menemui, menyapa, menegur atau mengoreksi seseorang yang dianggap lebih tua, berpangkat lebih tinggi dan orang tersebut adalah pemimpin atau tokoh masyarakat. Dan secara ekstrim budaya sungkan ekuivalen dengan budaya Asal Bapak Senang (ABS).

Secara tinjauan historis, budaya sungkan adalah peninggalan masyarakat primitive. Seperti kita tahu sifat luhur masyarakat primitive salah satunya sangat hormat, taat dan setia terhadap orang-orang tua dan pemimpinnya.

Terlepas dari sifat tadi, budaya sungkan memang ada dan budaya ini sering terjadi di kantor/instansi pemerintah atau swasta, perusahaan dan bentuk lembaga birokrasi lainnya. Dan tentu saja mengganggu, apa sebab? Karena lembaga-lembaga itu berhubungan langsung dengan masyarakat.

Lagi pula, kalau budaya ini terjadi dengan alas an rasa hormat terhadap orang tua atau pemimpin, alasan itu tidak bisa kita terima. Sebab pada dasarnya perasaan enggan atau segan terjadi bila pemimpin melakukan kesalahan dan para bawahan tidak berani menegur dan mengoreksi kesalahan atasannya. Masih mending kalau kesalahan itu tidak fatal dalam artian kesalahan wajar.

Coba bayangkan kalau kesalahan itu mendasar dan dapat menyebabkan kontroversi, bukankah bisa mengganggu hubungan struktur birokrasi bahkan bisa saja terjadi perpecahan dan saling tuding! Sebenarnya kalau atasan atau pemimpin bertindak salah atau bisa jadi ‘selip lidah’ dalam bicara, para bawahan harus langsung menegur atau mengoreksi. Tentu dengan cara yang sopan dan wajar. Sebab tidak ada intimidasi yang menyatakan kalau menegur atau mengoreksi atasan akan dipecat atau diturunkan jabatannya!

Dan terus terang saja, beberapa pejabat pemerintah banyak yang tidak mengakui adanya budaya sungkan ini. Budaya sungkan masih ada dan tetap ada selama para orang-orang tua dan pemimpin-pemimpin tak mau membuka diri dan tidak bersedia dikritik.

CERBUNG: KEPUTUSAN HEBAT

GILANG masuk ke kamar kostnya dengan geram. Hari ini dia menahan amarah yang amat sangat. Dihempaskan tubuhnya di atas spring bed, sambil memegang kedua kepala rambutnya diremas. Selanjutnya dia menangis terisak-isak. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Beberapa saat kemudian, dia mengambil air wudhu dan pergi sholat. Malam ini dia banyak merenung, biasanya Gilang masing berkeliaran di pusat keramaian ibu kota setelah ia pulang kerja.

Gilang terlahir dari keluarga china. Ayahnya tauke kaya di kawasan sunter 35 tahun yang lalu, saat ibunya melahirkan Gilang, ayahnya meninggal. Ibu Gilang hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang sangat tergantung kepada suaminya, ibu Gilang juga china. Setahun setelah kematian ayahnya, ibunya Gilang menikah lagi dengan seorang pria china miskin asal Medan.

Gilang seorang yang cerdas, dari sejak SD hingga SMA prestasi belajarnya sangat cemerlang. Gilang bersekolah di sekolah rakyat biasa, karena dia china, sering sekali dia diledek oleh teman-temannya. Dia sendiri juga heran, kenapa dia dipanggil china, oleh teman-teman SD-nya, rupanya Gilang belum memahami masalah ras saat itu. Harta peninggalan ayahnya, dihabiskan oleh ayah tirinya untuk bermain judi. Makanya Gilang hanya dapat bersekolah dengan anak-anak pribumi di sebuah kawasan kumuh di Tanjung Priuk.

Kelas 5 SD, dengan uang tabungannya Gilang memutuskan untuk di sunat, alias di khitan. Aneh sekali kedengarannya, seorang anak kecil, china lagi, datang ke dokter, untuk di sunat. Tanpa ditemani oleh orang tuanya Gilang nekad memotong ujung kemaluannya, Gilang benar-benar disunat. Rupanya, saat mandi di sebuah sungai dengan teman-temannya, dia sempat melihat kemaluan teman-temannya tidak seperti dia, dan hal ini yang membuat dia terinspirasi untuk menyamakan bentuk kemaluannya dengan teman-teman sepermainannya di sungai. Lucu sekali, pemikiran yang polos, hanya agar tidak berbeda.

Mengetahui anaknya di sunat, ci Kwan ibu Gilang marah besar, tetapi ibunya hanya menangisi kebodohan anaknya. Berbeda dengan ko Acian, ayah tiri Gilang, dihajarnya Gilang sampai anak itu menggigil dan demam berhari-hari.

Ibunya merasa perlu menenangkan anaknya, keesokan hari, ibunya membuatkan bubur ayam kesukaan Gilang. Diusapnya kepala Gilang sambil menciumnya berkali-kali, seolah-olah ingin meminta maaf atas kelakuan ayah tirinya yang membuat tubuh kecil Gilang meriang karena dihajar oleh ayah tirinya.

“Maafkan ibumu, achai,” bisik ibunya sambil memeluk Gilang yang tekulai lemas di tempat tidur. Achai, nama china Gilang. Lee Kwan Chai nama lengkapnya di akte kelahiran. Namanya menjadi Gilang Komara, sejak si Achai kecil memutuskan masuk Islam ketika dia kelas 3 SMP.

***

“Gila, elo dapat hidayah dari mana Lang?” begitu aku menanggapi cerita masa kecilnya di sebuah resto McDonald’s di kawasan Senayan.

“Gak tahu mas, waktu gue memutuskan untuk disunat datang begitu aja, gitupun waktu gue mutusin untuk masuk Islam, datang begitu aja,” jawabnya enteng sambil mengunyah beberapa potong french fries renyah McDonald’s.

“Tapi, untuk masuk Islam, mungkin karena lingkungan teman-teman gue Islam semua,” katanya. Selain itu, keindahan kemundang adzan dan lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dari mesjid kecil seberang rumahnya membuat jiwanya tenang. Begitu tambahan singkat penjelasan Gilang.
Akunya terpekur sedikit. Sambil menyeruput soft drink, ice lemon tea yang aku pesan. Aneh. Tapi ini adalah hidayah Allah. Allah yang maha tahu, batinku.

“Oke…. sekarang, gue mau tanya, kenapa elo jadi gay?” Nada suaraku agak aku pelankan dan aku atur agar tidak terlalu menyinggungnya.

BERSAMBUNG….

TAMENG UNTUK AYAH

AYAH seorang tukang jahit. Beliau sangat bersahaja. Kesehariannya selalu dihabiskan di sebuah kios kecil tepat di depan pintu rumah. Apabila order lagi sepi ayah mencari order keliling, sehingga ayah dikenal juga sebagai tukang jahit keliling oleh warga setempat.

Rumah kami berada di Kampung Zaitun. Rumah yang sebagian besar dindingnya tanpa plesteran semen ini lebih mirip sebuah kotak pembungkus televisi besar. Hanya ada sebuah pintu masuk, satu buah jendela tepat disamping pintu dan dua buah lagi jendela kamar. Tidak ada pintu belakang, karena tepat di belakang rumah kami berdiri juga rumah-rumah warga lain yang tidak kalah kumuhnya dengan rumah kami. Sangat rapat.

Kios tempat ayah berkerja untuk menjahit adalah ruang tamu, yang disekat menjadi dua bagian sekatan yang agak besar menjadi tempat ayah bekerja, menjahit baju pesanan langganannya.

Udara di luar rumah sangat panas. Hawa panas sampai menusuk ubun-ubun kepala. Mungkin akibat dominasi iklim laut. Iklim di tanah Palestina memang berubah-ubah, antara iklim laut tengan dan iklim gurun, kendati demikian pada masa-masa tertentu iklim gurun pasir juga mempengaruhi iklim keseluruhan.

Kampung Zaitun berada di Jalur Gaza. Ada beberapa kota yang berada di Jalur Gaza, di Gaza utara ada kota Beit Hanoun dan Beit Lahiya, dibagian Timur Jalur Gaza juga banyak perkampungan.

Karena kampung kami berbatasan langsung dengan Negara Yahudi Israel, kondisinya sangat menakutkan dan berbahaya. Peristiwa memilukan sering kami saksikan dengan mata kepala. Beberapa ruas jalan utama setiap hari di blokade oleh Pasukan Israel dengan persenjataan lengkap.

Mereka sering bentrok dengan orang-orang dewasa ataupun anak-anak tanggung bahkan dengan anak kecil seusiaku, bentrokan sering memakan korban jiwa.

***

Sebagian besar teman-teman seusiaku sudah tidak punya orang tua, ayah atau ibu mereka tewas akabat kekejaman tentara Israel.

Makanya aku sangat sayang dan hormat kepada ayah. Beliau tidak banyak berbicara dan sangat melindungi kami. Ibuku, aku dan adikku.

Namaku Jamal, Jamal Ahmad Fayyad. Usiaku sekarang baru 7 tahun. Adikku Fatimah Shafiyah. Ayahku sering dipanggil orang Mister Taylor, nama profesinya, nama sebenarnya Mohammad Al Fayyad. Ibuku bernama Siti Aisyah Mish’al.

Sering aku membayangkan hidup tanpa seorang ayah, aku paling sedih kalau mendengar cerita tentang teman-temanku yang kehilangan ayahnya karena pertempuran dengan pasukan Israel. Sebagian besar orang dewasa dan remaja memilih bergabung dengan Brigade Al Qassam, sayap militer Hamas yang menguasai seluruh Jalur Gaza.

Hari ini aku malas untuk bermain di luar rumah, biasanya menjelang siang setelah sekolah pasti aku, Abbas, Ali, Salam dan Yunus bermainan petak umpet dan perang-perangan dekat tembok pembatas. Kali ini aku memilih tinggal di rumah, sambil melihat ayah yang asyik sendiri dengan mesin jahitnya. Ibu di kamar mengipasi Fatimah yang tidur kepanasan.

“Jamal, coba kamu ke sini sebentar,” ayah memanggilku.
“Ada apa yah?” tanyaku.
“Temanin ayah ke pasar,” katanya sambil merapihkan sisa-sisa potongan kain.
“Asyik, nanti beliin Jamal mainan yah,” aku berseru kegirangan. Biasanya kalau ke pasar aku minta dibeliin mainan.
“Khan mainanmu masih banyak,” balas ayah memandangku.
Aku menunduk. Benar juga mainanku banyak. Semua mainan disimpan dengan amat rapih oleh ibu dalam sebuah kotak kayu besar.

Selesai sholat Dzhuhur, kami sudah bersiap. Ayah mengambil sehelai Kafiyeh dan dilingkari dikepalanya, mirip Yasser Arafat batinku. Tapi Yasser Arafat waktu berumur 38 tahun.

“Ayo kita jalan sekarang,” ayah langsung memegang tanganku. Ibu mengantarkan kami sampai ke depan pintu dan kemudian menutupnya rapat.

Jalanan siang ini tidak terlalu ramai oleh lalu lalang orang. Sebagian orang bergerombol di kedai-kedai atau di depan rumah yang berkanopi sambil ngobrol.

Kami berjalan kaki. Ayah masih menuntunku. Tangannya memegang erat tanganku. Padahal aku ingin tanganku jangan dipegang biar aku bisa jalan sambil berlari-lari atau menendang-nendang batu di jalanan yang berdebu.

Tetapi keinginan itu aku tidak sampaikan. Aku memandang wajahnya, wajah selalu serius. Menyadari aku menatapnya, ayah tersenyum.

“Kenapa lihat-lihat ayah?” tanyanya.
“Ayah keringatan tuh,” balasku. Beliau hanya tersenyum, sambil menyusutkan keringat di dahinya dengan kafiyeh.
“Kamu kepanasan juga ya, nanti di pasar ayah akan belikan jus dingin biar kamu segar,” rayu ayahku. Mungkin ayah pikir aku memandang dia karena kesal di ajak jalan ke pasar siang-siang.

Tujuan kami adalah pasar Wahd, pasar yang paling ramai dan lengkap dikawasan Jalur Gaza. Pasar masih agak jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki.
Sesekali tanganku di lepas ayah, kemudian dipegang lagi, tadi tangan kanan, sekarang tangan kiri. Aku senang punya ayah sebaik Mister Taylor ini. Aku tidak akan berpisah dengannya. Aku membutuhkannya. Aku pandang lagi wajahnya.

***

Tiba-tiba dari arah depan kami, banyak orang-orang berlarian. Aku dan ayah menepi ke atas trotoar. Sebagian dari yang berlarian itu terlihat berdarah-darah.

Ayah langsung memelukku dan menggendong tubuhku. Ayah mencari celah untuk bersembunyi. Kami akhirnya menemukan sebuah pot bunga besar di atas trotoar jalan.

Teriakan orang-orang menjadi lebih panik. Aku melihat tank-tank tentara Israel sudah mulai mendekat ke arah kami, suara tank-tank itu bergemuruh. Ayah tercekat. Di udara Helikopter serbu tentara Israel meraung-raung.

Disebelah jalan aku melihat beberapa pejuang sedang berusaha menembakkan roket RPG, aku hafal karena jenis roket tersebut sering kami lihat dipakai oleh para pejuang.
Roket RPG diluncurkan ke arah helikopter, tetapi tidak mengenai sasaran.

Balasan tembakan dari helicopter kemudian berdesing-desing dikuping. Aku menutup mata dan telinga. Ayah semakin rapat memelukku dibalik pot bunga besar. Beberapa rentetan tembakan membahana membelah siang yang panas. Keadaan sekeliling kami kocar-kacir. Akibat tembakan roket RPG, tentara Israel yang menggunakan tank kemudian membombardir jalanan.

Beberapa orang mulai melempar bom-bom Molotov ke arah tank. Pejuang Palestina terdesak di jalanan, aku bahkan melihat tiga tubuh tergolek bersimbah darah.

Aku tahu, ayahku bukan penakut. Dia sedang membela dan melindungi aku dari situasi pertempuran ini. Tubuhnya basah oleh keringat. Sekali-kali dia beristigfar dan menyebut asma Allah.

Deru tank-tank Israel semakin terdengar, petanda semakin dekat dengan tempat posisi kami bersembunyi. Tembakan mortir juga memekakan telinga. Menghancurkan rumah-rumah dan gedung yang berada di sepanjang jalan menuju pasar.

Suasana hingar bingar mendadak senyap. Ayah dan aku masih berjongkok, bersembunyi.
Tiba-tiba, ada suara lantang yang mengagetkan kami.

“Hai, keluar kalian dan angkat tangan!” hardik tentara Israel yang tiba-tiba sudah berada di depan kami.

Ayah tetap memeluk aku. Aku ketakutan luar biasa.

“Lepaskan anak itu!” kali ini tentara Israel sudah berjumlah tiga orang.

“Ini anak saya, biarkan kami pergi,” teriak ayahku kepada tentara Israel.

“Ngapain kalian di sini?” bentak seorang tentara berkumis tebal.

“Saya mau ke Pasar Wahd, dan kami terjebak dalam pertempuran ini,” jawab ayah tanpa terdengar takut.

“Cepat kalian pergi,” kata tentara lainnya.

Ayah cepat-cepat memegang aku, untuk pergi. Aku sangat curiga dengan perilaku ketiga tentara Israel ini. Mereka bersenjata lengkap, bahkan moncong senjatanya selalu mengarah ke muka kami.

Ayah berjalan cepat ke arah jalan menuju rumah kami, tanganku dipegang sangat erat. Ayah berjalan terus memandang ke depan. Aku berjalan sesekali kepalaku melihat-lihat ke belakang.

Ya, Allah! Aku terkesiap, saat aku memandang ke belakang tiga tentara itu sedang bersiap mengarahkan senjatanya ke arah kami, mereka telah mengokang senjata itu siap tembak.

“Tembak!” perintah seorang dari mereka.

Senjata laras panjang itu menyalak. Dengan refleks aku melepaskan tangan dari pegangan ayah. Aku berlari ke arah peluru yang sedang meluncur ke arah ayah. Keberanianku muncul, aku tidak mau kehilangan ayah, aku tidak mau ayah meninggal dibunuh tentara Israel.

Berondongan tembakan mengenai seluruh tubuhku. Ayah langsung berteriak memegang tubuhku yang hendak jatuh ke bumi. Aku tidak merasakan apa-apa, saat tubuhku tergolek dipangkuan ayah. Ayah menangis meraung-raung. Aku berusaha memegang wajah ayahku. Tapi tidak pernah sampai. Aku hanya tidak mau kehilangan ayahku. Aku tahu betapa sedih teman-temanku yang ditinggal mati seorang ayah. Namaku Jamal Ahmad Fayyad bin Mohammad Al Fayyad. Aku tameng untuk ayahku tercinta***

MY JOURNEY THRU TO YOUR MOUTH

AKU baru saja diturunkan di sebuah restoran cepat saji di kawasan Senen, hari ini hari kamis, biasanya memang aku dan beberapa temanku selalu diturunkan di restoran ini setiap hari kamis atau hari senin.
Ternyata setelah melalui rute dari tempat kami diinapkan di daerah Pulo Gadung, kami sudah berada di pintu belakang McDonald’s Atrium Senen.
Beberapa karyawan McDonald’s menyambut kami dengan suka cita, mungkin karena kami datang lebih awal dari jadwal. Biasanya mereka akan ngedumel apabila jadwal kedatangan kami molor dari jadwal yang disepakati.
Aku sempat mendengar percakapan karyawan McD itu dengan driver yang membawa kami.
“Pak, gini dong datang lebih awal,” kata seorang crew dengan suara berseri-seri kepada driver kami.
“Kebetulan jalanan lancar mas,” sahut driver kami sambil dia menyerahkan beberapa lembar kertas, sepertinya kertas purchase order.
“Soalnya kalo bapak telat matahari keburu muncul pak, jadi kita kerjanya kepanasan,” lanjut crew yang bernama Rahman .
Sesaat kemudian, seorang karyawan McD yang lain muncul di pintu belakang restoran itu, mereka sering menyebutnya pintu back door, dia berdasi dan rapih, sementara si Rahman memakai seragam model polo shirt. Hmmm, rupanya dia Manager yang bertugas hari ini. Namanya Dewa Made. Dari namanya sepertinya dia orang Bali.
Kemudian Rahman dan Agung crew lainnya yang bertugas menyambut kami langsung bersiap di pintu mobil Truk Kontainer, bersama Mas Dewa. Aku panggil mas aja deh ke manager berdasi itu, tidak sopan kalau hanya panggil dia Dewa.
Kami disambut antusias dan penuh semangat, maklum hari masih pagi, jam belum menunjukkan pukul 08.00 WIB. Mas Dewa mulai mengabsen kami satu persatu sebelum kami diturun. Suaranya lantang.
“Beef Patties, 5 case!” suara Mas Dewa memecahkan perhatianku.
“French Fries, 10 case!” lanjut Mas Dewa. Sambil tangannya mencentang kertas purchase order.
Rahman dan Agung dibantu driver kami menurunkan teman-temanku yang disebutkan tadi.
Kini tiba giliranku.
“Big Mac Buns, 7 tray!” seru mas Dewa. Aku sempat agak gelagapan saat aku diturunkan dari Truk.
Setiap mau diturunkan aku selalu gelagapan. Kata orang bule neuorves, gugup gitu. Gimana gak gugup, ada perbedaan temperatur saat aku masih duduk di dalam Truk. Temperatur di dalam truk sangat dingin yaitu minus 7 derajat Celsius. Sementara saat aku diturunkan, aku langsung berada di suhu udara terbuka atau suhu ruang manusia.
Aku langsung keringatan. Badanku langsung basah.

***

Ya, aku sering disebut Big Mac Buns oleh orang-orang McD. Aku adalah sepotong roti beku. Makanya aku disimpan dalam truk dengan pendingin minus 7 derajat Celsius. Aku dibuat beku agar supaya lebih tahan lama.
Dalam keadaan beku, masa kadaluarsaku selama 60 hari di dalam freezer (ruang pendingin).
Aku adalah roti andalan McDonald’s, karena aku McDonald’s menjadi rajanya burger di dunia. Tubuhku berwarna coklat keemasan (golden brown), tubuhku tinggi sekali dibanding dengan Reguler Buns atau Quarter Powder Buns, itu lho roti untuk membuat Beef atau Cheese burger dan McChicken Burger, selain itu tubuhku juga bagus dan seksi, aku ditaburi butir-butiran wijen secara merata.
Tubuhku terdiri atas 3 bagian, yaitu Crown (mahkota yang bertabur wijen) di bagian atas, bagian tengah Club dan bagian bawahku namanya Heel. Pokoknya bentukku sangat semetris.
So, keseluruhan tinggi badanku yang atletis ini adalah 2 ½ inchi. Beratku 32 ons dan mempunyai diameter atau lingkar perut 3 7/8 inchi. Kata teman-temanku aku sangat proporsional dan ideal. Makanya banyak yang tergila-gila padaku termasuk kaum hawa.
Biasanya setelah diturunkan dari truk delivery, aku langsung dimasukkan ke dalam Freezer restoran yang suhunya minus 18 derajat celcius. Tapi kali ini aku langsung di letakkan di area kitchen oleh Rahman untuk di thawing (dicairkan). Oh, aku tahu rupanya pagi ini mereka sudah kehabisan Big Mac Buns yang siap dimasak hehehe. Pantesan dari tadi Rahman, Agung dan Mas Dewa sumringah, rupanya akibat liburan panjang banyak persedian produk mentah yang run out alias habis hari ini. Mereka bisa selamat dari complain customer atau boss mereka hehehe.
Umurku sangat singkat kalau sudah di thawing, hanya 48 jam. Aku tahu McDonald’s sangat menjaga kualitas kami.

***

Tepat jam 12.00 siang, Riki nama crew yang bertugas di kitchen membuka plastik pembungkus tubuhku. Aroma roti yang masih fresh langsung menyebar keseluruh ruangan kitchen.
Rupanya ada seorang customer yang sudah memesanku.
Dengan sigap Riki, memilah-milah bagian tubuhku di atas buns tray. Bagian Heel tubuhku sudah tergolek di atas buns tray, sementara bagian Crown dan Club pasrah tergeletak di atas buns spatula.
Aku menutup mata. Sebentar lagi tubuhku akan dipanggang oleh mesin pemanggang roti, namanya Toaster. Sebenarnya aku akrab banget dengan mesin toaster, hanya saja suhu toaster ini suka membuat aku kepanasan.
Benar saja, ceeeeessss, bagian club dan heelku sudah ditindih oleh toaster yang panasnya 215 derajat Celsius. Aku dipanggang selama kurang lebih 35 detik, agar penampilanku terkaramelisasi dengan baik dan tentunya benar-benar hot dan fresh.
Setelah 35 detik, timer toaster berbunyi. Riki mengangkat bagian Club dan Heelku dengan menggunakan bun spatula. Lalu memasukkan bagian Crownku di bagian atas toaster untuk dipanggang juga.
Di atas bun tray, aku menuju meja dress. Untuk diberi bumbu-bumbu dan sayuran segar. Aku sempat melirik Riki memasukkan 2 buah beef patties ke dalam mesin Grill. Yup, karena aku adalah Big Mac Burger, maka tentunya untuk menyempurnakan cita rasaku, harus ada 2 buah potongan daging sapi import yang ikut dalam proses penyempurnaan ini.
Daging sapi dalam bentuk patties ini kemudian di masak dengan mesin Grill selama 38 detik. Aku mesem-mesem sendiri melihat beef patties dimasak, maklum mesin Grill sama panas dengan toaster. Suhu pemasakan Grill untuk bagian bawah (lower) platen 177 derajat Celsius dan bagian atas platen (upper) 218 derajat Celsius. Pasti mereka juga kepanasan.
Sambil menunggu beef patties matang, Riki kemudian memberi aku baju dibagian Heelku, tepatnya sich bukan baju tapi semacam kerah dari kertas. Lalu setelah itu aku diberi saos, namanya big mac sauce sebanyak 1/3 flus ons ke bagian club dan heel. Selanjutnya di atas bigmac sauce dengan tangannya yang cekatan Riki menaburi onions (bawang dalam butiran kecil) sebanyak 1/8 tea spoon, dan akhirnya tubuhku diberikan sayur selada segar namanya Lettuce masing-masing ½ ons ke bagian club dan heel.
Belum cukup sampai di situ. Riki kemudian mengambil selembar cheese slice di letakan di atas lettuce di bagian heel dan memberikan 2 buah irisan pickles (acar timun) di atas lettuce di bagian club.
Bagian upper platen Grill mulai terbuka, itu pertanda waktu pemasakan beef patties sudah selesai. Glek, aku menelan ludah, aroma daging panggang menyengat lezat. Aku lihat Riki dengan kalemnya mengangkat 2 lembar daging sapi yang selesai dimasak itu. Diletakkannya 1 iris beef patties matang di atas cheese slice di bagian heel, satu lagi di atas 2 potongan pickles di bagian club.
Aku hampir berteriak, tapi aku urungkan. Rupanya Riki tidak lupa untuk mengambil bagian tubuhku yang masih dipanggang toaster, dengan menggunakan bun spatula bagian Crown di angkat dan digabung di atas bagian Club. Setelah itu Riki mengangkat bagian Club dan Crown untuk digabungkan dengan bagian Heel yang sudah berkerah. Sempurna! Batinku dalam hati. Aku sudah menjadi Big Mac Burger McDonald’s yang masih hot dan fresh. Santai dulu, aku masih telanjang nich.
Riki kemudian membungkus aku dengan kertas wrap.

***

“Counter Crew, one Big Mac ready, take it please!” teriak Riki kepada petugas counter yang memesan aku tadi. Riki melemparku ke transfer bin, tempat dimana produk jadi dari kitchen disimpan untuk diambil oleh petugas counter.
“Thank you,” sahut petugas counter, segera itu dia mengambilku dan meletakkan aku di sebuah nampan.
Customerku seorang wanita. Cantik dan cukup seksi, aku mengintip dari balik pembungkus.
“Terima kasih ya,” kata wanita itu dengan sopan kepada petugas counter. “Sama-sama mbak,” jawab petugas counter tak kalah ramah dan sopan. Dengan lembut aku diangkatnya dengan nampan menuju meja lobby.
Rupanya wanita ini salah satu penggemar berat Big Mac Burger. Dengan satu gigitan, aku telah berada dalam kunyahannya, masuk ke dalam perutnya dan beberapa gigitannya yang lain telah memenuhi selera kulinernya. Puas sekali aku, sama puasnya dengan wanita cantik itu saat mengusap mulutnya dengan tissue selesai menyantapku habis. Very fully total customer satisfaction!***

CERITA BERSAMBUNG : “PERKENALAN”

AKU kenal Zakky sebenarnya tidak terlalu disengaja. Saat itu, aku sedang beristirahat karena sakit di rumah. Seorang temanku mengenalkan Zakky denganku ketika Gilang temanku itu membesukku di Rumah tempo lalu.

Aku sendiri agak sungkan untuk berkenalan dengan Zakky. Terus terang bukan karena aku tidak menerima orang asing di rumahku, tetapi lebih ke faktor Gilang. Gilang temanku adalah seorang gay, homoseksual tulen. Aku katakan tulen karena ketertarikannya terhadap lawan jenis alias cewek tidak ada sama sekali.

Aku pernah mengenalkan Gilang dengan seorang kerabat cewek yang kebetulan belum berjodoh, mereka sempat bertemu. Beberapa hari kemudian, Fira kerabatku itu menelpon aku sambil mencak-mencak. “mas, kalo ngenalin cowok ke aku jangan yang gay dong!’ katanya sewot. Aku hanya diam, tidak sangka Gilang akan berterus terang kepada Fira kalau dia seorang gay.

Yup! Gilang sudah lama mendeklarasikan dirinya sebagai seorang homoseksual, sejak dia masih dibangku kelas 1 SMP, saat ketika ibunya meninggal dunia.

Kembali ke Zakky. Akhirnya Zakky dan Gilang datang juga bersama ke rumah, setelah terlebih dahulu sms. Aku tidak membalas smsnya.

Zakky berambut agak keriting, perawakannya sedikit gemuk tetapi tidak juga tinggi, biasa-biasa aja. Tidak seperti Gilang, tinggi menjulang. Orangnya ramah dan banyak cerita. Dari cerita-cerita yang mengalir dari mulutnya, aku tahu dia pernah menjadi juara MTQ tingkat kabupaten di Makassar. Ayahnya dari Bone, ibunya Bugis. Makanya saat waktu sholat maghrib tiba, kami mendaulatnya untuk menjadi imam sholat. Bacaan surat-surat Al Qur’annya lumayan merdu, walaupun ada beberapa panjang pendek bacaan yang masih perlu koreksi.

Aku juga akhirnya tahu, bahwa sejak dia kecil, ada penyakit yang menggerogoti dirinya. Zakky mengidap Leukimia, kanker darah. Rasanya seperti cerita sinetron ketika aku bertutur tentang penyakitnya ini. Dia harus melakukan cuci darah minimal dua kali dalam sepekan. Untuk melangsungkan hidupnya dan agar membuat sel-sel darahnya yang masih sehat bisa mempertahankan metabolisme darah dalam tubuhnya, cuci carah untuk memompa zat zat makanan, oksigen keseluruh bagian tubuhnya. Tentu agar dia dapat terlihat dan berfungsi selayaknya orang normal.

Sejak mengetahui usianya, yang menurut dokter hanya dalam hitungan jari tangan, dia menyibukkan dirinya di sebuah LSM HIV/AIDS di Jakarta. Berbagai aktivitas di LSM-nya dia telah lakukan, mulai sessi Training, Seminar, Advokasi sampai mendampingi para penderita HIV/AIDS agar tetap punya semangat hidup, tepatnya dia menjadi motivator bagi penderita HIV/AIDS di Indonesia.

Aku tidak bertanya kenapa LSM yang peduli dengan HIV/AIDS yang ia geluti. Karena aku sudah tahu jawabannya. Zakky juga seorang gay. Dia berkenalan dengan Gilang di dunia maya, saat chating. Dan Zakky menyadari betul, perilakunya sangat rentan dengan virus mematikan yang belum ada obatnya di zaman super modern ini.

***

Ponselku bergetar. Sebuah sms masuk. Dari Zakky.

“Mas bamby, aku di rmh sakit”

Aku baca sekilas, kemudian aku replay.

“Cuci darah ya”

Sesaat kemudian, ponselku bergetar lagi. Sms Zakky masuk.

“Aku di rawat”

Aku tidak membalasnya.

Terakhir aku mendengar kabar Zakky, saat dia akan mengikuti sebuah seminar Internasional tentang AIDS di Canada, bulan Agustus lalu. Dia sempat menceritakan kesibukkannya mengurus visa canada waktu itu.

“Mas, aku akan ke Canada, mungkin dua minggu,” begitu katanya saat dia menelponku di awal Agustus. Rupanya dia sudah di Bandara saat menelponku.

“Wah, udah beres tuh urusan visanya. Akhirnya elo ke Canada juga, Kapan berangkat?” tanyaku.

“Hari ini mas, aku udah di Bandara. Penerbangan jam 23.45,” jawabnya santai. Aku melongok jam tanganku, menunjukkan jam 21.00.

“Oke Zak, good luck. Jangan lupa oleh-oleh untuk gua ya!” aku agak sedikit berteriak. Karena saat itu aku berada di depan Gang masuk ke rumahku dekat jalan raya. Aku baru saja pulang dari kantor.

BERSAMBUNG…

RAWALPINDI SUATU HARI

MALAM berselimut kabut. Udara diluar flat sangat dingin, angin menghembus membuat orang-orang mengetatkan jaket dan sweter mereka. Beberapa orang yang tidak mempunyai urusan penting lebih memilih tinggal di dalam rumah menghangatkan diri dengan secangkir kopi atau teh.

Flat ini memang kondisinya sudah agak tua, kusam dan terkesan tidak terurus. Hanya ada beberapa keluarga yang menempati kamar-kamar flat. Hembusan angin menyeruak masuk melewati jendela pintu flatku yang dibeberapa bagian kusennya sudah rapuh dan bolong.

Aku membiarkan angin masuk. Beberapa hari terakhir ini memang cuaca kota Rawalpindi sedang buruk, sering turun hujan dan kabut dimalam dan pagi hari. Kota ini banyak menyimpan kenangan saat aku tumbuh dewasa, kota yang berada di provinsi Punjab Pakistan berada persis dilereng selatan pengunungan Himalaya dan bukit Murree. Dibelah oleh aliran sungai Leh, Indus dan Jhelun. Sebuah kota yang indah, buatku selalu penuh kenangan.

Kenangan terakhir saat aku masuk ke sebuah Perguruan Tinggi cukup besar, namanya NUST Institute Of Information Technology Rawalpindi. Sebagai seorang yang baru menjadi mahasiswa, belajar di sebuah perguruan tinggi teknologi membuatku sangat bangga.

Walaupun aku terlahir dari keluarga sederhana, tetapi orangtuaku sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Sebelum memilih kuliah, sebenarnya aku pengen sekali bekerja di Afganistan. Maklum orangtuaku masih berdarah Afganistan, aku seringkali mendengar orang tuaku berbicara dengan kerabatnya dengan bahasa Pashto, yaitu bahasa pertuturan bangsa Pastun di Afganistan dan barat Pakistan. Kadang lucu mendengar pertuturan mereka.

Entah kenapa harus Afganistan. Yang pasti, saat naik ketingkat dua semester ketiga, aku harus meninggalkan bangku kuliah. Aku benar-benar pergi ke Afganistan.

***

Walapun malam dingin kota Rawalpindi menjadi maha hangat, semua orang tampak bersuka cita. Jalan-jalanan di kota meriah penuh dengan bendera, umbul-umbul, baliho besar dan banner. Semuanya berisi slogan dan gambar Benazir Bhutto.

Aku masih di dalam flat. Perasaanku sangat tegang, aku berusaha untuk rileks dengan mengenang masa aku tumbuh besar di kota ini. Aku membuka laptop meyambungkan kabel telpon untuk membuka internet. Beberapa situs dalam dan luar negeri aku buka, aku berusaha untuk mencari lebih banyak informasi tentang kedatangan Benazir Bhutto ke Rawalpindi besok.

Sesekali aku beringsut ke springbed tempat tidur, aku memeriksa kondisi benda yang tergolek dalam koper hitam besar. Melihat kedua benda itu aku semakin tegang, entah kenapa aku berkeringat cemas. Jantungku berpacu cepat. Tidak sabar aku menunggu pagi. Malam ini terasa begitu panjang dan membosankan.

Benda itu akhirnya aku usap, sebuah senjata. Namanya Kalashnikov, aku memeluknya untuk melepas kecemasanku. Aku periksa amunisinya dan perlahan aku bersihkan ujung moncong senjata buatan Rusia ini. Setelah itu aku raih sebuah lagi, Pistol Bareta. Kupastikan pelurunya terisi dalam magazin. Pikiranku kemudian menerawang, entah apa yang aku pikirkan. Aku pengen malam berlalu cepat.

***

Pagipun tiba, kota Rawalpindi gegap gempita. Semua orang keluar dari rumah masing-masing. Tidak peduli dengan udara dingin. Hari ini Benazir Bhutto akan berkampanye di depan ribuan massa pendukungnya Partai Rakyat Pakistan. Kedatangannya sudah lama ditunggu sejak ia mengasingkan diri.

Gemuruh sorai sorai orang-orang di luar flat terdengar sangat keras. Tetapi justru gemuruh itu membuatku semakin tenang, semakin nyaman tiada rasa cemas dan takut.

Aku mengambil Jas dan memakainya. Mengenakan dasi di depan cermin, aku melihat lama pantulan wajahku di cermin. Wajahku cukup cakep untuk ukuran pemuda Pakistan masa kini, badanku tegap dan usiaku masih muda, belum genap berusia 30 tahun. Aku terus menatap wajahku dalam-dalam dalam cermin yang retak diujung bingkainya. Setelah puas aku ambil kacamata hitam dan memakainya.

Acara kampanye Benazir Bhutto sudah dimulai. Aku sempat berpapasan dengan beberapa reporter dan kameramen stasiun TV lokal dan Internasional di depan jalan keluar dari Flat.

Flatku sangat dekat dengan lapangan kampanye Benazir Bhutto, aku cukup jalan kaki saja melihat kemeriahan dan keramaian pesta politik ini. Pengamanan cukup ketat. Beberapa polisi dengan senjata laras panjang berada di setiap jalan, apalagi jalan menuju panggung kampanye.

Rupanya kampanye sudah selesai, massa pendukung Bhutto berteriak-teriak mengeluk-elukannya. Sampai aku sendiri terdesak-desak di antara orang-orang yang berpeluh dan bersemangat. Aku lihat Bhutto menaiki sebuah mobil entah Land Cruiser atau Toyota Cygnus Putih aku tidak terlalu perduli. Hanya aku mengamati mobil tersebut dilengkapi dengan jendela di atap (sunroof).

Aku menyelinap di antara kerumunan massa, jantungku berpacu cepat, aku hanya melihat sekelilingku berwarna abu-abu, tidak ada suara, hanya terdengar suara angin menghembus. Bhutto melambaikan tangannya padaku, seketika itu aku ambil pistol yang menyelip dipinggangku. Aku menembak Bhutto, tembakan pertama mengarah ke leher dan kedua ke arah dada, aku tidak yakin tembakanku mengena sasaran. Pandanganku mulai gelap, aku memicu detonator yang ada dalam saku jasku. Warna kilat menghantam penglihatanku. Bom yang aku siapkan benar-benar sukses meledak tanpa aku tahu apa yang terjadi selanjutnya.

……..(tiada yang tahu namaku, tiada yang tahu siapa aku, aku hanya bagian cerita penghujung tahun 2007, cerita tragedi yang tragis)