MY JOURNEY THRU TO YOUR MOUTH

AKU baru saja diturunkan di sebuah restoran cepat saji di kawasan Senen, hari ini hari kamis, biasanya memang aku dan beberapa temanku selalu diturunkan di restoran ini setiap hari kamis atau hari senin.
Ternyata setelah melalui rute dari tempat kami diinapkan di daerah Pulo Gadung, kami sudah berada di pintu belakang McDonald’s Atrium Senen.
Beberapa karyawan McDonald’s menyambut kami dengan suka cita, mungkin karena kami datang lebih awal dari jadwal. Biasanya mereka akan ngedumel apabila jadwal kedatangan kami molor dari jadwal yang disepakati.
Aku sempat mendengar percakapan karyawan McD itu dengan driver yang membawa kami.
“Pak, gini dong datang lebih awal,” kata seorang crew dengan suara berseri-seri kepada driver kami.
“Kebetulan jalanan lancar mas,” sahut driver kami sambil dia menyerahkan beberapa lembar kertas, sepertinya kertas purchase order.
“Soalnya kalo bapak telat matahari keburu muncul pak, jadi kita kerjanya kepanasan,” lanjut crew yang bernama Rahman .
Sesaat kemudian, seorang karyawan McD yang lain muncul di pintu belakang restoran itu, mereka sering menyebutnya pintu back door, dia berdasi dan rapih, sementara si Rahman memakai seragam model polo shirt. Hmmm, rupanya dia Manager yang bertugas hari ini. Namanya Dewa Made. Dari namanya sepertinya dia orang Bali.
Kemudian Rahman dan Agung crew lainnya yang bertugas menyambut kami langsung bersiap di pintu mobil Truk Kontainer, bersama Mas Dewa. Aku panggil mas aja deh ke manager berdasi itu, tidak sopan kalau hanya panggil dia Dewa.
Kami disambut antusias dan penuh semangat, maklum hari masih pagi, jam belum menunjukkan pukul 08.00 WIB. Mas Dewa mulai mengabsen kami satu persatu sebelum kami diturun. Suaranya lantang.
“Beef Patties, 5 case!” suara Mas Dewa memecahkan perhatianku.
“French Fries, 10 case!” lanjut Mas Dewa. Sambil tangannya mencentang kertas purchase order.
Rahman dan Agung dibantu driver kami menurunkan teman-temanku yang disebutkan tadi.
Kini tiba giliranku.
“Big Mac Buns, 7 tray!” seru mas Dewa. Aku sempat agak gelagapan saat aku diturunkan dari Truk.
Setiap mau diturunkan aku selalu gelagapan. Kata orang bule neuorves, gugup gitu. Gimana gak gugup, ada perbedaan temperatur saat aku masih duduk di dalam Truk. Temperatur di dalam truk sangat dingin yaitu minus 7 derajat Celsius. Sementara saat aku diturunkan, aku langsung berada di suhu udara terbuka atau suhu ruang manusia.
Aku langsung keringatan. Badanku langsung basah.

***

Ya, aku sering disebut Big Mac Buns oleh orang-orang McD. Aku adalah sepotong roti beku. Makanya aku disimpan dalam truk dengan pendingin minus 7 derajat Celsius. Aku dibuat beku agar supaya lebih tahan lama.
Dalam keadaan beku, masa kadaluarsaku selama 60 hari di dalam freezer (ruang pendingin).
Aku adalah roti andalan McDonald’s, karena aku McDonald’s menjadi rajanya burger di dunia. Tubuhku berwarna coklat keemasan (golden brown), tubuhku tinggi sekali dibanding dengan Reguler Buns atau Quarter Powder Buns, itu lho roti untuk membuat Beef atau Cheese burger dan McChicken Burger, selain itu tubuhku juga bagus dan seksi, aku ditaburi butir-butiran wijen secara merata.
Tubuhku terdiri atas 3 bagian, yaitu Crown (mahkota yang bertabur wijen) di bagian atas, bagian tengah Club dan bagian bawahku namanya Heel. Pokoknya bentukku sangat semetris.
So, keseluruhan tinggi badanku yang atletis ini adalah 2 ½ inchi. Beratku 32 ons dan mempunyai diameter atau lingkar perut 3 7/8 inchi. Kata teman-temanku aku sangat proporsional dan ideal. Makanya banyak yang tergila-gila padaku termasuk kaum hawa.
Biasanya setelah diturunkan dari truk delivery, aku langsung dimasukkan ke dalam Freezer restoran yang suhunya minus 18 derajat celcius. Tapi kali ini aku langsung di letakkan di area kitchen oleh Rahman untuk di thawing (dicairkan). Oh, aku tahu rupanya pagi ini mereka sudah kehabisan Big Mac Buns yang siap dimasak hehehe. Pantesan dari tadi Rahman, Agung dan Mas Dewa sumringah, rupanya akibat liburan panjang banyak persedian produk mentah yang run out alias habis hari ini. Mereka bisa selamat dari complain customer atau boss mereka hehehe.
Umurku sangat singkat kalau sudah di thawing, hanya 48 jam. Aku tahu McDonald’s sangat menjaga kualitas kami.

***

Tepat jam 12.00 siang, Riki nama crew yang bertugas di kitchen membuka plastik pembungkus tubuhku. Aroma roti yang masih fresh langsung menyebar keseluruh ruangan kitchen.
Rupanya ada seorang customer yang sudah memesanku.
Dengan sigap Riki, memilah-milah bagian tubuhku di atas buns tray. Bagian Heel tubuhku sudah tergolek di atas buns tray, sementara bagian Crown dan Club pasrah tergeletak di atas buns spatula.
Aku menutup mata. Sebentar lagi tubuhku akan dipanggang oleh mesin pemanggang roti, namanya Toaster. Sebenarnya aku akrab banget dengan mesin toaster, hanya saja suhu toaster ini suka membuat aku kepanasan.
Benar saja, ceeeeessss, bagian club dan heelku sudah ditindih oleh toaster yang panasnya 215 derajat Celsius. Aku dipanggang selama kurang lebih 35 detik, agar penampilanku terkaramelisasi dengan baik dan tentunya benar-benar hot dan fresh.
Setelah 35 detik, timer toaster berbunyi. Riki mengangkat bagian Club dan Heelku dengan menggunakan bun spatula. Lalu memasukkan bagian Crownku di bagian atas toaster untuk dipanggang juga.
Di atas bun tray, aku menuju meja dress. Untuk diberi bumbu-bumbu dan sayuran segar. Aku sempat melirik Riki memasukkan 2 buah beef patties ke dalam mesin Grill. Yup, karena aku adalah Big Mac Burger, maka tentunya untuk menyempurnakan cita rasaku, harus ada 2 buah potongan daging sapi import yang ikut dalam proses penyempurnaan ini.
Daging sapi dalam bentuk patties ini kemudian di masak dengan mesin Grill selama 38 detik. Aku mesem-mesem sendiri melihat beef patties dimasak, maklum mesin Grill sama panas dengan toaster. Suhu pemasakan Grill untuk bagian bawah (lower) platen 177 derajat Celsius dan bagian atas platen (upper) 218 derajat Celsius. Pasti mereka juga kepanasan.
Sambil menunggu beef patties matang, Riki kemudian memberi aku baju dibagian Heelku, tepatnya sich bukan baju tapi semacam kerah dari kertas. Lalu setelah itu aku diberi saos, namanya big mac sauce sebanyak 1/3 flus ons ke bagian club dan heel. Selanjutnya di atas bigmac sauce dengan tangannya yang cekatan Riki menaburi onions (bawang dalam butiran kecil) sebanyak 1/8 tea spoon, dan akhirnya tubuhku diberikan sayur selada segar namanya Lettuce masing-masing ½ ons ke bagian club dan heel.
Belum cukup sampai di situ. Riki kemudian mengambil selembar cheese slice di letakan di atas lettuce di bagian heel dan memberikan 2 buah irisan pickles (acar timun) di atas lettuce di bagian club.
Bagian upper platen Grill mulai terbuka, itu pertanda waktu pemasakan beef patties sudah selesai. Glek, aku menelan ludah, aroma daging panggang menyengat lezat. Aku lihat Riki dengan kalemnya mengangkat 2 lembar daging sapi yang selesai dimasak itu. Diletakkannya 1 iris beef patties matang di atas cheese slice di bagian heel, satu lagi di atas 2 potongan pickles di bagian club.
Aku hampir berteriak, tapi aku urungkan. Rupanya Riki tidak lupa untuk mengambil bagian tubuhku yang masih dipanggang toaster, dengan menggunakan bun spatula bagian Crown di angkat dan digabung di atas bagian Club. Setelah itu Riki mengangkat bagian Club dan Crown untuk digabungkan dengan bagian Heel yang sudah berkerah. Sempurna! Batinku dalam hati. Aku sudah menjadi Big Mac Burger McDonald’s yang masih hot dan fresh. Santai dulu, aku masih telanjang nich.
Riki kemudian membungkus aku dengan kertas wrap.

***

“Counter Crew, one Big Mac ready, take it please!” teriak Riki kepada petugas counter yang memesan aku tadi. Riki melemparku ke transfer bin, tempat dimana produk jadi dari kitchen disimpan untuk diambil oleh petugas counter.
“Thank you,” sahut petugas counter, segera itu dia mengambilku dan meletakkan aku di sebuah nampan.
Customerku seorang wanita. Cantik dan cukup seksi, aku mengintip dari balik pembungkus.
“Terima kasih ya,” kata wanita itu dengan sopan kepada petugas counter. “Sama-sama mbak,” jawab petugas counter tak kalah ramah dan sopan. Dengan lembut aku diangkatnya dengan nampan menuju meja lobby.
Rupanya wanita ini salah satu penggemar berat Big Mac Burger. Dengan satu gigitan, aku telah berada dalam kunyahannya, masuk ke dalam perutnya dan beberapa gigitannya yang lain telah memenuhi selera kulinernya. Puas sekali aku, sama puasnya dengan wanita cantik itu saat mengusap mulutnya dengan tissue selesai menyantapku habis. Very fully total customer satisfaction!***

4 Tanggapan

  1. Kalau lewat penuturan cerita atau kisah, kira-kira begitulah setangkup burger dengan nama Big Mac dibuat di kitchen McDonald’s.
    Selamat menikmati.

  2. Aku suka banget gaya cerita begini, tadinya aku pikir “Hah, kenapa mas Bamby naik truk kaya tentara?!” :D Eh, ternyata ini ceritanya si Bic Mac!

    Sepertinya nyam-nyam… Aku belum yang belum pernah nyoba Bic Mac Burger jadi tergoda :)

  3. entah kenapa saya ngerasa burger mcD sudah ga enak lagi. ga kayak jaman saya esempe dulu

  4. Hehehe… lidahnya udah imun dengan burger kali mas Dekisugi.
    Kalo aku paling doyan tempe, tapi udah 2 hari menghilang.
    Kemana kau tempe.
    Lagi buat “Journey” juga kali ye.

Tinggalkan Balasan