Bayi yang aku ajak berbicara rupanya tidak mau tumbuh menjadi seorang dewasa. Baru kali ini dalam percakapanku dengan bayi, aku mendapatkan jawaban seperti ini. Tidak mau dewasa, dia ingin menjadi bayi terus hingga akhir hayatnya atau kalau perlu mati sekalian, tanpa harus menjadi dewasa.
Biasanya bayi yang aku ajak bercakap-cakap selalu dengan bersemangat dan sangat tidak sabar untuk cepat menjadi dewasa, setidaknya mereka sangat antusias menjadi seorang anak kecil, kemudian tumbuh remaja lalu menjadi dewasa. Seperti Fariz keponakanku.
Bayi itu bernama Andrea. Aku mengenalnya saat aku sedang jalan-jalan di sebuah mall mewah di Senayan. Kami berkenalan ketika tatapan mata kami bersirobak. Andrea saat itu sedang duduk dalam kereta dorongan bayi bersama baby sitternya. Tatapan matanya membuat aku mendekati dia, karena aku tahu itu sebuah isyarat dari bayi untuk memanggilku.
Kelebihanku bercakap-cakap dan mengerti bahasa bayi baru aku sadari suatu hari ketika seorang keponakanku tentu saja masih bayi tiba-tiba menangis. Bayi menangis membuatku bingung, panik, entah harus berbuat apa. Walaupun aku wanita, tetapi saat itu usiaku masih sangat remaja. Aku tidak pernah diajari oleh ibuku bagaimana mengganti popok bayi, atau hanya sekadar menggendong bayi untuk menenangkan. Aku dan Fariz hanya berdua, kakakku ibu Fariz sedang ke pasar. Fariz terus menangis.
Yang terdengar di kupingku kala itu hanya suara ooee..ooeee ooooeeee yang nyaring sekali. Kemudian diikuti oleh suara mmmmha…paaaa…heeheeeo oe yang keluar dari mulut mungil Fariz.
Aku kemudian menangkap irama suara Fariz menjadi rangkaian kata yang aku mengerti, betapa terkejutnya aku. Karena ternyata Fariz berkata,”Tante, ada semut yang menggigit punggungku.” Masih terkaget, aku membalikkan badan Fariz dan ternyata benar, ada seekor semut merah yang sedang menggigit punggung Fariz.
“Semutnya sudah tante pencet Fariz,” kataku sambil memencet mahluk kecil merah di depan matanya. Fariz tampak gembira. Ada perasaan lega dari mimiknya, rupanya dia sangat tersiksa dengan gigitan semut. Pantesan dia menangis.
“Gitu dong, dari tadi Fariz udah teriak-teriak nangis tante malah kayak orang bingung,” ketus Fariz sambil masih tengkurap di kasurnya.
“Mana tante tahu kamu nangis digigit semut,” balasku gemas. Aku sendiri saat itu masih tidak percaya aku bercakap-cakap dengan seorang bayi yang belum genap berusia sepuluh bulan.
Sejak saat itu, aku sangat mengerti bahasa bayi, bahkan Fariz selalu merengek minta aku yang menjaganya ketika usai aku pulang sekolah, alasannya sederhana Fariz tahu aku mengerti percakapannya. Yang mengherankan setelah Fariz bisa berbicara dan telah mengenal beberapa kosa kata sederhana saat dia berusia sekitar satu setengah tahun, dia tidak pernah ingat semasa bayi aku dan dia bisa saling mengerti percakapan dan berkomunikasi. Seolah-olah semuanya sirna dengan bertambah umurnya. Aku berkesimpulan aku mempunyai kelebihan berbicara dengan bayi bukan dengan anak kecil yang sudah mulai bisa berbicara.
***
Waktu berlalu seirama perputaran bumi. Tidak ada seorangpun yang tahu tentang kemampuanku berkomunikasi dengan bayi. Hanya aku dan bayi-bayi yang pernah aku ajak bercakap-cakap, dan mereka tidak pernah bisa membongkar rahasia ini kemudian membeberkan kepada orang lain termasuk orang tua mereka. Ya, tentu saja tidak bisa, karena pada suatu saat bayi-bayi itu sudah mulai bicara mereka akan lupa bahwa mereka pernah bercakap-cakap denganku. Aku sangat yakin. Namun kemudian sirna.
Ternyata tidak sepenuhnya keyakinan itu benar. Menginjak usiaku yang ke-40, aku bertemu dengan seorang bayi, tepatnya kini dia sudah menjadi seorang pemuda dewasa. Pertemuanku kali ini bukan di tempat keramaian atau di panti asuhan. Setelah aku bisa berkomunikasi dengan bayi, aku sering mengunjungi panti asuhan untuk sekadar bertegur sapa dengan bayi-bayi yang dibuang oleh orang tua mereka. Sangat sedih mendengar kisah mereka, mereka yang tidak punya dosa apa-apa harus menanggung penderitaan yang sungguh luar biasa.
Bahkan ada seorang bayi yang dibuang, kemudian malah ditolong oleh seekor anjing yang membawanya ke sebuah panti asuhan. Bayi itu bernama Luna, Luna tidak pernah mengerti kenapa ibunya tega membuang dia, disaat tenggorokannya sangat dahaga untuk merasakan nikmatnya air susu ibu.
“Aku kira anjing itu akan memakanku bunda, ternyata dia menyeret aku ke tempat ini,” begitu cerita Luna yang kini berbaring gembira di rumah panti asuhan sambil bermain boneka donal bebek. Luna menjadi bayi yang sangat lucu, montok dan sehat di panti itu.
“Ternyata anjing lebih berhati mulia ketimbang ibumu yang manusia itu Luna,” kataku sambil mengusap-usap punggung Luna. Bayi sangat senang apabila punggungnya diusap-usap dengan penuh kasih sayang. Atau juga kepalanya dibelai dengan penuh kelembutan.
Bayi-bayi itu kini memanggilku bunda. Padahal aku sendiri belum memiliki seorang anakpun. Aku tidak menikah sampai umurku kepala empat, hingga aku bertemu dengan bayi Andrea.
Hanya ada seseorang yang mengetahui aku bisa berbicara dan mengerti bahasa bayi. Anak itu bernama Danu. Aku mengenal Daru karena dia tetanggaku, umurnya kini hampir sama dengan umur Fariz, hanya selisih 2 bulan.
Sejak bisa berkomunikasi dengan bayi, aku jadi keranjingan mencari bayi-bayi untuk aku ajak berbicara. Orang tua mereka hanya tahunya aku seorang yang sangat suka dengan bayi, kadang-kadang ulahku membuat mereka mengerenyitkan dahi.
“Kinar, kamu tuh kalau sudah bermain dengan Fariz atau anak tetangga kayak orang gila, masak sich suaramu sampai ngikut-ngikut suara bayi segala,” begitu kakakku memberikan penilaian kepadaku. Aku hanya senyum menanggapi komentar seperti itu. Akhirnya buatku menjadi biasa menanggapai komentar seperti itu, tetapi ternyata tidak buat ibu para bayi mereka menganggap aku gila. Biar saja, mereka khan tidak tahu kemampuanku.
Kembali ke Danu. Saat Danu berusia 6 bulan aku berkenalan dengannya. Danu sangat hening, semua tingkah lakunya disampaikan dengan gerakan tangan, kaki, mimik muka, mulut atau mata. Aku bersuara, Danu tetap diam. Malah kedua tangannya bergerak-gerak. Seperti memberikan isyarat.
“Astaga!” pekikku, ternyata Danu bisu dan tuli. Kasihan sekali kamu Danu, aku hampir menangis ketika dengan tangannya yang mungil memberitahu aku, bahwa dia tidak bisa bicara dan mendengar. Tangannya berbahasa isyarat.
Saat Danu berusia 2 tahun, mereka sekeluarga pinda ke kota Bandung. Suatu hari, tiba-tiba ada seorang pemuda datang ke rumahku dan dengan gembira sekali memelukku. Aku sempat menolak pelukannya, tiba-tiba pemuda itu berhenti memelukk, tersenyum dan dengan bahasa isyarat dia memperkenalkan diri. Ya Tuhan, ternyata pemuda itu Danu.
Danu kemudian bercerita dengan menggunakan bahasa isyarat, dan bertanya kepadaku apakah aku masih berbicara dengan bayi. Aku mengangguk. Sejak itu aku tahu bahwa bayi yang bisu dan tuli dari kecil, masih akan ingat percakapanku dengan mereka semasa bayi. Bayi itu Danu. Dia datang ke rumahku, dan aku telah berusia 40 tahun.
***
“Nenek !” panggil Andrea. Lamunanku buyar. Ah, iya. Aku masih bengong di depan Andrea bayi yang tidak mau jadi dewasa, dia ingin menjadi bayi terus.
“Apa pendapat nenek?” Tanya Andrea. “Kenapa aku harus menjadi dewasa?” kejarnya.
“Nenek tidak punya jawaban,” kataku kemudian meninggalkan Andrea yang menangis meraung. Babby sitter Andrea berusaha menenangkan anak itu dengan memberikannya sebotol susu.
Andrea tetap menangis. Aku terus berjalan terbungkuk-bungkuk menyelusuri koridor mall yang mewah. Aku jadi teringat kisah Luna yang diselamatkan oleh seekor anjing. Manusia dewasa itu kejam. Itu kesimpulan Andrea di awal percakapanku dengannya tadi. Makanya Andrea tidak mau menjadi dewasa. Kurasa Itu jawaban yang diharapkan bayi Andrea. Perlukah aku menegaskan kepadanya?***
DIarsipkan di bawah: Cerita Fiksi
salam kenal juga, bamby… berkunjung… menghirup cerita2 yang ada…